Utsman ibn Affan Membuka Jalan Bagi Banû Umayyah

Saqifah O Hashem

Oleh O Hashem (penulis buku Saqifah)

Sepeninggal Rasûl, dari empat khalîfah yang lurus tiga di antaranya dibunuh tatkala sedang dalam tugas, yaitu Umar, Utsmân dan Alî. Yang menarik adalah ramalan Umar bin Khaththâb bahwa Utsmân akan dibunuh karena membuat pemerintahan yang nepotis seperti yang dikatakannya. Umar seperti melihat bahaya munculnya sifat-sifat jahiliah ini sehingga tatkala ia baru ditusuk oleh Abû Lu’lu’ah dan mengetahui bahwa ia akan meninggal pada tahun 24 H. – 645 M, ia memanggil keenam anggota Syûrâ yang ia pilih sendiri.

Umar berkata: “Sesungguhnya Rasûl Allâh telah wafat dan ia rida akan enam tokoh Quraisy: Alî, Utsmân, Thalhah, Zubair, Sa’d dan Abdurrahmân bin Auf.” Kepada Thalhah bin Ubaidillâh ia berkata: “Boleh saya bicara atau tidak!” Thalhah: “Bicaralah!” Umar: “Engkau belum pernah berbicara baik sedikit pun juga. Aku ingat sejak jarimu putus pada perang Uhud, orang bercerita tentang kesombonganmu, dan sesaat sebelum Rasûl Allâh wafat, ia marah kepadamu[ ] karena kata-kata yang engkau keluarkan sehingga turun ayat hijâb…Bukankah engkau telah berkata: “Bila Nabî saw wafat aku akan menikahi jandanya?”

Bukankah Allâh SWT lebih berhak terhadap wanita sepupu kita, yang menjadi istrinya, dari diri kita sendiri, sehingga Allâh SWT menurunkan ayat: “Tiadalah pantas bagi kamu untuk mengganggu Rasûl Allâh, atau menikahi janda-jandanya sesudah ia wafat. Sungguh yang demikian itu suatu dosa besar menurut Allâh.”[ ]

Di bagian lain: “Bila engkau jadi khalîfah, engkau akan pasang cincin kekhalifahan di jari kelingking istrimu”. Demikian kata-kata Umar terhadap Thalhah. Seperti diketahui ayat ini turun berkenaan dengan Thalhah yang mengatakan: “Muhammad telah membuat pemisah antara kami dan putri-putri paman kami dan telah mengawini para wanita kami. Bila sesuatu terjadi padanya maka pasti kami akan mengawini jandanya”. Dan di bagian lain: “Bila Rasûl Allâh saw wafat akan aku kawini Âisyah karena dia adalah sepupuku”. Dan berita ini sampai kepada Rasûl Allâh saw. Rasûl merasa terganggu dan turunlah ayat hijâb.[ ]

Kemudian kepada Zubair, Umar berkata: “Dan engkau, ya Zubair, engkau selalu gelisah dan resah, bila engkau senang engkau Mu’min, bila marah, engkau jadi kafir, satu hari engkau seperti manusia dan pada hari lain seperti setan. Dan andaikata engkau jadi khalîfah, engkau akan tersesat dalam peperangan. Bisakah engkau bayangkan, bila engkau jadi khalîfah? Aku ingin tahu apa yang akan terjadi pada umat pada hari engkau jadi manusia dan apa yang akan terjadi pada mereka tatkala engkau jadi setan, yaitu tatkala engkau marah. Dan Allâh tidak akan menyerahkan kepadamu urusan umat ini selama engkau punya sifat ini.”[ ] Di bagian lain: “Dan engkau ya Zubair, demi Allâh, hatimu tidak pernah tenang siang maupun malam, dan selalu berwatak kasar sekasar-kasarnya, jilfan jâfian.”[ ]

Bersama Âisyah, Thalhah dan Zubair setelah membunuh Utsmân, memerangi Alî dan menyebabkan paling sedikit 20.000 orang meninggal dalam Perang Jamal. Dan selama puluhan tahun menyusul, beribu-ribu kepala yang dipancung, banyak tangan dan kaki yang dipotong, mata yang dicungkil dengan mengatas namakan menuntut darah Utsmân sebagaimana akan kita lihat menyusul ini.

Kepada Utsmân, Umar berkata: “Aku kira kaum Quraisy akan menunjukmu untuk jabatan ini karena begitu besar cinta mereka kepadamu dan engkau akan mengambil Banû Umayyah dan Banû Abî Mu’aith untuk memerintah umat. Engkau akan melindungi mereka dan membagi-bagikan uang baitul mâl kepada mereka dan orang-orang akan membunuhmu, menyembelihmu di tempat tidur.”[ ]

Atau menurut riwayat dari Ibnu Abbâs yang didengarnya sendiri dari Umar: “Andaikata aku menyerahkan kekhalifahan kepada Utsmân ia akan mengambil Banû Abî Mu’aith untuk memerintah umat. Bila ia melakukannya mereka akan membunuhnya.”[ ]

Di bagian lain, dalam lafal Imâm Abû Hanîfah: “Andaikata aku menyerahkan kekhalifahan kepada Utsmân, ia akan mengambil keluarga Abî Mu’aith untuk memerintah umat, demi Allâh andaikata aku melakukannya, ia akan melakukannya, dan mereka akhirnya akan memotong kepalanya.”[ ] Atau di bagian lain: Umar berwasiat kepada Utsmân dengan kata-kata: “Bila aku menyerahkan urusan ini kepadamu maka bertakwalah kepada Allâh dan janganlah mengambil keluarga Banû Abî Mu’aith untuk memerintah umat.”[ ]

KHALÎFAH UTSMÂN YANG DITUDUH NEPOTIS
Mari kita lihat “ramalan” Umar bin Khaththâb. Tatkala Alî menolak mengikuti peraturan-peraturan dan keputusan-keputusan Abû Bakar dan Umar, dalam pertemuan anggota Syûrâ, Utsmân justru sebaliknya. Ia berjanji menaati peraturan dan keputusan Abû Bakar dan Umar.[ ]

Ia menjadi khalîfah tanggal 1 Muharam tahun 24 H pada umur 79 tahun dan meninggal dibunuh tanggal 18 Dzul Hijjah tahun 35 H, 17 Juni 656 M. Pemerintahannya dianggap nepotis oleh banyak kalangan. Misalnya, ia mengangkat anggota keluarganya yang bernama Marwân anak Hakam Ibnu Abi’l-Âsh yang telah diusir Rasûl saw dari Madînah karena telah bertindak sebagai mata-mata musuh. Utsmân membolehkan ia kembali dan mengangkatnya menjadi Sekretaris Negara. Ia memperluas wilayah kekuasaan Mu’âwiyah, yang mula-mula hanya kota Damaskus, sekarang ditambah dengan Palestina, Yordania dan Libanon. Ia memecat gubernur-gubernur yang ditunjuk Umar dan menggantinya dengan keluarganya yang Thulaqâ’[ ], ada di antaranya yang pernah murtad dan disuruh bunuh oleh Rasûl, dilaknat Rasûl, penghina Rasûl dan pemabuk. Ia mengganti gubernur Kûfah Sa’d bin Abî Waqqâsh dengan Walîd bin Uqbah bin Abî Mu’aith, saudara seibu dengannya. Walîd disebut sebagai munafik dalam Al-Qur’ân.

Alî, Thalhah dan Zubair, tatkala Utsmân mengangkat Walîd bin Uqbah jadi gubernur Kûfah, menegur Utsmân: “Bukankah Umar telah mewasiatkan kepadamu agar jangan sekali-kali mengangkat keluarga Abî Mu’aith dan Banû Umayyah untuk memerintah umat?” Dan Utsmân tidak menjawab sama sekali.[ ]

Walîd adalah seorang pemabuk dan penghambur uang negara. Utsmân juga mengganti gubernur Mesir Amr bin Âsh dengan Abdullâh bin Sa’îd bin Sarh, seorang yang pernah disuruh bunuh Rasûl saw karena menghujat Rasûl. Di Bashrah ia mengangkat Abdullâh bin Amîr, seorang yang terkenal sebagai munafik.

Utsmân juga dituduh telah menghambur-hamburkan uang negara kepada keluarga dan para gubernur Banû Umayyah yaitu orang-orang yang disebut oleh para sejarahwan sebagai tak bermoral (fujûr), pemabok (shâhibu’l-khumûr), tersesat (fâsiq), malah terlaknat oleh Rasûl saw (la’în) atau tiada berguna (‘abats). Ia menolak kritik-kritik para sahabat yang terkenal jujur. Malah ia membiarkan pegawainya memukul saksi seperti Abdullâh bin Mas’ûd, pemegang baitul mâl di Kûfah sehingga menimbulkan kemarahan Banû Hudzail. Ia juga membiarkan pemukulan Ammâr bin Yâsir sehingga mematahkan rusuknya dan menimbulkan kemarahan Banû Makhzûm dan Banû Zuhrah. Ia juga menulis surat kepada penguasa di Mesir agar membunuh Muhammad bin Abû Bakar. Meskipun tidak sampai terlaksana, tetapi menimbulkan kemarahan Banû Taim. Ia membuang Abû Dzarr Al-Ghifârî, pemrotes ketidakadilan dan penyalahgunaan uang Negara ke Rabdzah dan menimbulkan kemarahan keluarga Ghifârî. Para demonstran datang dari segala penjuru, seperti Mesir, Kûfah, Bashrah dan bergabung dengan yang di Madînah yang mengepung rumahnya selama 40 hari[ ] yang menuntut agar Utsmân memecat Marwân yang tidak hendak dipenuhi Utsmân. Tatkala diingatkan bahwa uang Baitu’l Mâl adalah milik umat yang harus dikeluarkan berdasarkan hukum syariat seperti sebelumnya oleh Abû Bakar dan Umar ia mengatakan bahwa ia harus mempererat silaturahmi dengan keluarganya. Ia mengatakan: “Akulah yang memberi dan akulah yang tidak memberi. Akulah yang membagi uang sesukaku!.”[ ]

Utsmân memberikan kebun Fadak kepada Marwân, yang tidak hendak diberikan Abû Bakar kepada Fâthimah yang akan dibicarakan di bagian lain. Memerlukan beberapa buku tersendiri untuk menulis penyalahgunaan “uang negara” oleh para penguasa dan “politisi” pada masa itu, sedang sebagian besar sahabat dan anggota masyarakat hidup kekurangan.

Al-Amînî mencacat daftar singkat hadiah yang dihambur Utsman:

Dalam dinar:
Marwân bin Hakam bin Abî’l-Ash 500.000
Ibnu Abî Sarh 100.000
Khalîfah Utsmân 100.000
Zaid bin Tsâbit 100.000
Thalhah bin Ubaidillâh 200.000
Abdurrahmân bin Auf 2.560.000
Ya’la bin Umayyah 500.000
Jumlah dinar 4.310.000

Dalam Dirham:
Marwân bin Abî’l-Ash 300.000
Keluarga Hakam 2.020.000
Keluarga Hârits bin Hakam 300.000
Keluarga Sa’îd bin Âsh bin Umayya 100.000
Walîd bin Uqbah bin Abî Mu’aith 100.000
Abdullâh bin Khâlid bin Usaid (1) 300.000
Abdullâh bin Khâlid bin Usaid (2) 600.000
Abû Sufyân bin Harb 200.000
Marwân bin Hakam 100.000
Thalhah bin Ubaidillâh (1) 2.200.000
Thalhah bin Ubaidillâh (2) 30.000.000
Zubair bin Awwâm 59.800.000
Sa’d bin Abî Waqqâsh 250.000
Khalîfah Utsmân sendiri 30.500.000
Jumlah dirham 126.770.000

Dirham adalah standar mata uang perak dan dinar adalah standar mata uang uang mas. Satu dinar berharga sekitar 10-12 dirham. Satu dirham sama harganya dengan emas seberat 55 butir gandum sedang. Satu dinar seberat 7 mitsqal. Satu mitsqal sama berat dengan 72 butir gandum. Jadi satu dinar sama berat dengan 7 X 72 butir gandum atau dengan ukuran sekarang sama dengan 4 gram. Barang dagangan satu kafilah di zaman Rasûl yang terdiri dari 1.000 unta dan dikawal oleh sekitar 70 orang berharga 50.000 dinar yang jadi milik seluruh pedagang Makkah. Seorang budak berharga 400 dirham.

Contoh penerima hadiah dari Utsmân adalah Zubair bin Awwâm. Ia yang hanya kepercikan uang baitul mâl itu, seperti disebut dalam shahîh Bukhârî, memiliki 11 (sebelas) rumah di Madînah, sebuah rumah di Bashrah, sebuah rumah di Kûfah, sebuah di Mesir… Jumlah uangnya, menurut Bukhârî adalah 50.100.000 dan di lain tempat 59.900.000 dinar, di samping seribu ekor kuda dan seribu budak.[ ]

Âisyah menuduh Utsmân telah kafir dengan panggilan Na’tsal[ ] dan memerintahkan agar ia dibunuh. Zubair menyuruh serbu dan bunuh Utsmân. Thalhah menahan air minum untuk Utsmân. Akhirnya Utsmân dibunuh. Siapa yang menusuk Utsmân, tidak pernah diketahui dengan pasti. Siapa mereka yang pertama mengepung rumah Utsmân selama empat bulan dan berapa jumlah mereka dapat dibaca sekilas dalam catatan berikut. Mu’âwiyah mengejar mereka satu demi satu.

CERITA DEMONSTRAN
Satu tahun sebelum Utsmân dibunuh, orang-orang Kûfah, Bashrah dan Mesir bertemu di Masjid Haram, Makkah. Pemimpin kelompok Kûfah adalah Ka’b bin Abduh, pemimpin kelompok Bashrah adalah Al-Muthanna bin Makhrabah Al-Abdî dan pemimpin kelompok Mesir adalah Kinânah bin Basyîr bin Uttâb bin Auf As-Sukûnî kemudian diganti at-Taji’î.

KELOMPOK KELUARGA YANG DIDZALIMI KHALÎFAH
Sa’îd bin Musayyib menceritakan adanya keluarga Banû Hudzail dan Banû Zuhrah yang merasa sakit hati atas perbuatan Utsmân terhadap Abdullâh bin Mas’ud, karena Ibnu Mas’ûd berasal dari kedua klan ini. Keluarga Banû Taim untuk membela Muhammad bin Abî Bakar, keluarga Banû Ghifârî untuk membela Abû Dzarr Al-Ghifârî, keluarga Banû Makhzûm untuk membela Ammâr bin Yâsir. Mereka mengepung rumah khalîfah dan menuntut khalîfah memecat sekertaris Negara Marwân bin Hakam.

KELOMPOK PENDUDUK BASHRAH
Kemudian dari Bashrah datang ke Madînah 150 orang. Termasuk kelompok ini adalah Dzarîh bin Ubbâd al-Abdî, Basyîr bin Syarîh Al-Qaisî, Ibnu Muharrisy. Malah menurut Ibnu Khaldûn jumlah mereka sama banyaknya dengan jumlah pendatang Mesir, 1000 orang, dan terbagi dalam 4 kelompok.

KELOMPOK KÛFAH
Dari Kûfah datang 200 orang yang dipimpin Asytar. Ibnu Qutaibah mengatakan kelompok Kûfah terdiri dari 1000 orang dalam empat kelompok. Pemimpin masing-masing kelompok adalah Zaid bin Sûhân al-Abdî, Ziyâd bin an-Nashr al-Hâritsî, Abdullâh bin al-Ashm al-Âmirî dan Amr bin al-Ahtâm.

KELOMPOK MESIR
Dari Mesir datang 1.000 orang.[ ] Dalam kelompok ini terdapat Muhammad bin Abî Bakar , Sûdan bin Hamrân As-Sukûnî, Amr bin Hamaq Al-Khaza’î. Mereka dibagi dalam empat kelompok masing-masing dipimpin oleh Amr bin Badîl bin Waraqa’ Al-Khaâz’î, Abdurrahmân bin Adîs Abû Muhammad Al-Balwî, Urwah bin Sayyim bin Al-Baya’ Al-Kinânî Al-Laitsî, Kinânah bin Basyîr Sukûnî at-Tâjidî. Mereka berkumpul sekitar Amr bin Badîl al-Ghaza’î, seorang sahabat Rasûl saw dan Abdurrahmân bin Adîs Al-Tâjibî.

KELOMPOK MADÎNAH
Mereka disambut oleh kelompok Madînah yang terdiri dari kaum Muhâjirîn dan Anshâr seperti Ammâr bin Yâsir Al-Abasî, seorang pengikut Perang Badr, Rifâqah bin Rafî Al-Anshârî, pengikut Perang Badr, Al-Hajjâj bin Ghâziah seorang sahabat Rasûl saw., Amîr bin Bâkir, seorang dari Banû Kinânah dan pengikut Perang Badr, Thalhah bin Ubaidillâh dan Zubair bin Awwâm, peserta Perang Badr.[ ]

ÂISYAH: “BUNUH NA’TSAL!”
Dan sejarah mencatat bahwa ummu’l-mu’minîn Âisyah, bersama Thalhah, Zubair dan anaknya Abdullâh bin Zubair, telah melancarkan peperangan terhadap Amîru’l-mu’minîn Alî bin Abî Thâlib, yang memakan kurban lebih dari 20.000 orang, dengan alasan untuk menuntut balas darah Utsmân. Padahal ummu’l-mu’minîn Âisyah adalah pelopor melawan Utsmân dengan mengatakan bahwa Utsmân telah kafir.

Thalhah menahan pengiriman air minum kepada Utsmân, tatkala rumah khalîfah yang ketiga itu dikepung para “pemberontak” yang datang dari daerah-daerah. Zubair menyuruh orang membunuh Utsmân pada waktu rumah khalîfah itu sedang dikepung. Orang mengatakan kepada Zubair: “Anakmu sedang menjaga di pintu, mengawal (Utsmân).” Zubair menjawab: “Biar aku kehilangan anakku tetapi Utsmân harus dibunuh!”[ ] Zubair dan Thalhah juga adalah orang-orang pertama membaiat Alî.

Khalîfah Utsmân mengangkat Walîd bin Uqbah, saudara seibunya jadi Gubernur di Kûfah. Ayahnya Uqbah pernah menghujat Rasûl Allâh di depan orang banyak, dan kemudian dibunuh Alî bin Abî Thâlib. Walîd sendiri dituduh sebagai pemabuk dan menghambur-hamburkan uang baitul mâl. Ibnu Mas’ûd (Abû Abdurrahmân Abdullâh bin Mas’ûd), seorang sahabat terkemuka, yang ikut Perang Badr, yang mengajar Al-Qur’ân dan agama di Kûfah, penanggung jawab baitul mâl, menegur Walîd. Walîd mengirim surat kepada Utsmân mengenai Ibnu Mas’ûd. Utsmân memanggil Ibnu Mas’ûd menghadap ke Madînah. Balâdzurî menulis: Utsmân sedang berkhotbah di atas mimbar Rasûl Allâh. Tatkala Utsmân melihat Ibnu Mas’ûd datang ia berkata: “Telah datang kepadamu seekor kadal (duwaibah) yang buruk, yang (kerjanya) mencari makan malam hari, muntah dan berak!” Ibnu Mas’ûd: “Bukan begitu, tetapi aku adalah Sahabat Rasûl Allâh saw pada Perang Badr dan bai’at ar-ridhwân.”[ ]

Dan Âisyah berteriak: “Hai Utsmân, apa yang kau katakan terhadap Sahabat Rasûl Allâh ini?” Utsmân: “Diam engkau!” Dan Utsmân memerintahkan mengeluarkan Ibnu Mas’ûd dari Masjid dengan kekerasan. Abdullâh bin Zam’ah, pembantu Utsmân lalu membanting Ibnu Mas’ûd ke tanah. Kemudian ia menginjak tengkuk Ibnu Mas’ûd secara bergantian dengan kedua kakanya hingga rusuk Ibnu Mas’ûd patah. Marwân bin Hakam berkata kepada Utsmân: “Ibnu Mas’ûd telah merusak Irak, apakah engkau ingin ia merusak Syam?” Dan Ibnu Mas’ûd ditahan dalam kota Madînah sampai meninggal dunia tiga tahun kemudian. Sebelum mati ia membuat wasiat agar Ammâr bin Yâsir menguburnya diam-diam, yang kemudian membuat Utsmân marah.

Karena Utsmân sering menghukum saksi pelanggaran agama oleh pembantu-pembantunya, timbullah gejolak di Kûfah. Orang menuduh Utsmân menghukum saksi dan membebaskan tertuduh.[ ] Abû’l-Faraj menulis: “Berasal dari Az-Zuhrî yang berkata: “Sekelompok orang Kûfah menemui Utsmân pada masa Walîd bin Uqbah menjadi Gubernur. Maka berkatalah Utsmân: “Bila seorang di antara kamu marah kepada pemimpinnya, maka dia lalu menuduhnya melakukan kesalahan! Besok aku akan menghukummu.” Dan mereka meminta perlindungan Âisyah. Besoknya Utsmân mendengar kata-kata kasar mengenai dirinya keluar dari kamar Âisyah, maka Utsmân berseru: “Orang Iraq yang tidak beragama dan fasiklah yang mengungsi di rumah Âisyah.” Tatkala Âisyah mendengar kata-kata Utsmân ini, ia mengangkat sandal Rasûl Allâh saw dan berkata: “Anda meninggalkan Sunnah Rasûl Allâh, pemilik sandal ini.” Orang-orang mendengarkan. Mereka datang memenuhi masjid. Ada yang berkata: “Dia betul!” dan ada yang berkata: “Bukan urusan perempuan!” Akhirnya mereka baku hantam dengan sandal.”[ ]

Balâdzurî menulis: “Âisyah mengeluarkan kata-kata kasar yang ditujukan kepada Utsmân dan Utsmân membalasnya: “Apa hubungan Anda dengan ini? Anda diperintahkan agar diam di rumahmu (maksudnya adalah firman Allâh yang memerintahkan istri Rasûl agar tinggal di rumah: “Tinggallah dengan tenang dalam rumahmu”)[ ] dan ada kelompok yang berucap seperti Utsmân, dan yang lain berkata: “Siapa yang lebih utama dari Âisyah?” Dan mereka baku hantam dengan sandal, dan ini pertama kali perkelahian antara kaum Muslimîn, sesudah Nabî saw wafat.”[ ]

Tatkala khalîfah Utsmân sedang dikepung oleh “pemberontak” yang datang dari Mesir, Bashrah dan Kûfah, Âisyah naik haji ke Makkah. Thabarî menulis: “Seorang laki-laki bernama Akhdhar (datang dari Madînah) dan menemui Âisyah. Âisyah: “Apa yang sedang mereka lakukan?” Akhdhar: “Utsmân telah membunuh orang-orang Mesir itu!” Âisyah: “Inna lillâhi wa inna ilaihi râji’un. Apakah ia membunuh kaum yang datang mencari hak dan mengingkari zalim? Demi
Allâh, kita tidak rela akan (peristiwa) ini.” Kemudian seorang laki-laki lain (datang dari Madînah). Âisyah: “Apa yang sedang dilakukan orang itu?” Laki-laki itu menjawab: “Orang-orang Mesir telah membunuh Utsmân!” Âisyah: “Ajaib si Akhdhar. Ia mengatakan bahwa yang terbunuhlah yang membunuh.” Sejak itu muncul peribahasa, “lebih bohong dari Akhdhar.”[ ]

Abû Mikhnaf Lûth Al-Azdî menulis: “Âisyah berada di Makkah tatkala mendengar terbunuhnya Utsmân. la segera kembali ke Madînah tergesa-gesa. Dia berkata: “Dialah Pemilik Jari.[ ] Demi Allâh, mereka akan mendapatkan kecocokan pada Thalhah.” Dan tatkala Âisyah berhenti di Sarif,[ ] ia bertemu dengan Ubaid bin Abî Salmah al-Laitsî. Âisyah berkata: “Ada berita apa?” Ubaid: “Utsmân dibunuh” Âisyah: “Kemudian bagaimana?” Ubaid: “Kemudian mereka telah menyerahkannya kepada orang yang paling baik, mereka telah membaiat Alî” Âisyah: “Aku lebih suka langit runtuh menutupi bumi! Selesailah sudah! Celakalah Anda! Lihatlah apa yang Anda katakan!” Ubaid: “Itulah yang saya katakan pada Anda, ummu’lmu’minîn” Maka merataplah Âisyah. Ubaid: “Ada apa ya ummu’l-mu’minîn! Demi Allâh, aku tidak mengetahui ada yang lebih utama dan lebih berhak dari dirinya. Dan aku tidak mengetahui orang yang sejajar dengannya. Maka mengapa Anda tidak menyukai wilâyah-nya?” Âisyah tidak menjawab.

Dengan jalur yang berbeda-beda diriwayatkan bahwa Âisyah, tatkala sedang berada di Makkah, mendapat berita tentang pembunuhan Utsmân, telah berkata: “Mampuslah dia (ab’adahu’llâh)! Itulah hasil kedua tangannya sendiri! Dan Allâh tidak zalim terhadap hambanya!” Dan diriwayatkan bahwa Qais bin Abî Hâzm naik haji pada tahun Utsmân dibunuh. Tatkala berita pembunuhan sampai, ia berada bersama Âisyah dan menemaninya pergi ke Madînah. Dan Qais berkata: “Aku mendengar ia telah berkata: “Dialah Si Pemilik Jari!” Dan tatkala disebut nama Utsmân, ia berkata: “Mampuslah dia!” Dan waktu mendapat kabar dibaiatnya Alî ia berkata: “Aku ingin yang itu (sambil menunjuk ke langit, pen.) runtuh menutupi yang ini!” (sambil menunjuk ke bumi, pen.)

Ia lalu memerintahkan agar unta tunggangannya dikembalikan ke Makkah dan aku kembali bersamanya. Sampai di Makkah ia berkhotbah kepada dirinya sendiri, seakan-akan ia berbicara kepada seseorang. “Mereka telah membunuh Ibnu Affân (Utsmân, pen.) dengan zalim.” Dan aku berkata kepadanya: “Ya ummu’l mu’minîn, tidakkah aku mendengar baru saja bahwa Anda telah berkata: “Ab’adahu ‘llâh!” Dan aku melihat engkau sebelum ini paling keras terhadapnya dan mengeluarkan kata-kata buruk untuknya!” Âisyah: “Betul demikian, tetapi aku telah mengamati masalahnya dan aku melihat mereka meminta agar dia bertobat. Kemudian setelah ia bertobat mereka membunuhnya pada bulan haram.”

Dan diriwayatkan dalam jalur lain bahwa tatkala sampai kepadanya berita terbunuhnya Utsmân ia berkata: “Mampuslah dia! Ia dibunuh oleh dosanya sendiri. Mudah-mudahan Allâh menghukumnya dengan hasil perbuatannya (aqâdahu’llâh)!. Hai kaum Quraisy, janganlah kamu berlaku sewenang-wenang terhadap pembunuh Utsmân, seperti yang dilakukan kepada kaum Tsamud!. Orang yang paling berhak akan kekuasaan ini adalah Si Pemilik Jari!” Dan tatkala sampai berita pembaiatan terhadap Alî, ia berkata: “Habis sudah, habis sudah (ta’îsa), mereka tidak akan mengembalikan kekuasaan kepada (Banû) Taim untuk selama-lamanya!”

Dan jalur lain lagi: “Kemudian ia kembali ke Madînah dan ia tidak ragu lagi bahwa Thalhah-lah yang memegang kekuasaan (khalîfah) dan ia berkata: “(Allâh) menjauhkan dan membinasakan si Na’tsal. Dialah si Pemilik Jari! Itu dia si Abû Syibl![ ] Ah dialah sudah misanku! Demi Allâh, mereka akan menemukan pada Thalhah kepantasan untuk kedudukan ini. Seakan-akan aku sedang melihat ke jarinya tatkala ia dibaiat! Bangkitkan unta ini dan segera berangkatkan dia.”[ ]

Dan tatkala ia berhenti di Sarf dalam perjalanan ke Madînah ia bertemu dengan Ubaid bin Umm Kilab.[ ] Âisyah bertanya: “Bagaimana?” Ubaid: “Mereka membunuh Utsmân, dan delapan hari tanpa pemimpin!” Âisyah: “Kemudian apa yang mereka lakukan?” Ubaid: “Penduduk Madînah secara bulat (bî’l-ijmâ’) telah menyalurkannya ke jalan yang terbaik, mereka secara bulat telah memilih Alî bin Abî Thâlib.” Âisyah: “Kekuasaan jatuh ke tangan sahabatmu! Aku ingin yang itu runtuh menutupi yang ini. Bagus![ ] Lihatlah apa yang kamu katakan!” Ubaid: “Itulah yang aku katakan, ya ummu’l-mu’minîn.” Maka merataplah Âisyah.

Ubaid melanjutkan: “Ada apa dengan Anda, ya ummu’l-mu’minîn? Demi Allâh, aku tidak menemukan antara dua daerah berlafa gunung berapi (maksudnya Madînah) ada satu orang yang lebih utama dan lebih berhak dari dia. Aku juga tidak melihat orang yang sama dan sebanding dengannya, maka mengapa Anda tidak menyukai wilâyah-nya?” Ummu’l-mu’minîn lalu berteriak: “Kembalikan aku, kembalikan aku.” Dan ia lalu berangkat ke Makkah. Dan ia berkata: “Demi Allâh, Utsmân telah dibunuh secara zalim. Demi Allâh, kami akan menuntut darahnya!”

Ibnu Ummu’l-Kilab berkata kepada Âisyah: “Mengapa, demi Allâh, sesungguhnya orang yang pertama mengamati pekerjaan Utsmân adalah Anda, dan Anda telah berkata: “Bunuhlah Na’tsal! Ia telah kafir!” Âisyah: “Mereka minta ia bertobat dan mereka membunuhnya. Aku telah bicara dan mereka juga telah bicara. Dan perkataanku yang terakhir lebih baik dari perkataanku yang pertama.”

Ibnu Ummu’l-Kilab:

“Dari Anda bibit disemai,
Dari Anda kekacauan dimulai,
Dari Anda datangnya badai,
Dari Anda hujan berderai,
Anda suruh bunuh sang imam,
Ia telah kafir, Anda yang bilang,[ ]
Jika saja kami patuh,
Ia tentu kami bunuh,
Bagi kami pembunuh adalah penyuruh,
Tidak akan runtuh loteng di atas kalian,
Tidak akan gerhana matahari dan bulan,
Telah dibaiat orang yang agung,
Membasmi penindas, menekan yang sombong,
Ia selalu berpakaian perang,
Penepat janji, bukan pengingkar.”

Menurut Mas’ûdî[ ]:
“Dari Anda datang tangis,
Dari anda datang ratapan,
Dari Anda datangnya topan,
Dari Anda tercurah hujan,
Anda perintah bunuh sang imam,
Pembunuh bagi kami adalah penyuruh.”[ ]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s